Gerak Bisnis Manufaktur Asean Akhir 2025, Thailand Ungguli RI

Gerak Bisnis Manufaktur Asean Akhir 2025, Thailand Ungguli RI

Rangkaberita.com — Bisnis manufaktur di kawasan ASEAN terus menunjukkan dinamika yang menarik menjelang akhir 2025. Laporan terkini menunjukkan bahwa Thailand berhasil unggul dalam beberapa indikator utama dibandingkan Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat manufaktur terbesar di kawasan. Perkembangan ini menjadi sorotan para ekonom, investor, dan pelaku industri karena dapat memengaruhi aliran investasi, rantai pasok regional, serta daya saing manufaktur ASEAN secara keseluruhan.

Thailand tercatat berhasil mempertahankan pertumbuhan output manufaktur yang relatif stabil sepanjang tahun 2025. Sektor otomotif, elektronik, dan produk kimia menjadi kontributor utama pertumbuhan. Keunggulan Thailand terlihat dari kapasitas produksi yang lebih efisien, penetrasi ekspor yang kuat, serta pemanfaatan teknologi manufaktur modern. Selain itu, Thailand juga diuntungkan oleh kebijakan insentif pemerintah yang mendukung investasi asing dan pengembangan industri berbasis teknologi tinggi.

Sementara itu, Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan manufaktur yang positif, namun belum mampu menyaingi laju ekspansi Thailand di beberapa sektor strategis. Faktor-faktor yang memengaruhi antara lain infrastruktur yang belum merata, biaya logistik yang relatif tinggi, serta perizinan yang masih kompleks di beberapa daerah. Meskipun demikian, Indonesia tetap menjadi pemain utama di sektor tekstil, alas kaki, makanan olahan, dan beberapa produk elektronik tertentu.

Pertumbuhan manufaktur Thailand tidak lepas dari strategi pemerintahnya yang fokus pada industri berteknologi tinggi dan ekspor. Program-program seperti Thailand 4.0, yang mendorong digitalisasi pabrik, otomatisasi, dan inovasi teknologi, telah berhasil meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Hal ini menjadikan Thailand sebagai hub manufaktur yang lebih kompetitif dalam skala regional, sekaligus menarik minat investor global untuk menanamkan modalnya.

Di sisi lain, Indonesia sedang mengupayakan berbagai kebijakan untuk meningkatkan daya saing manufakturnya. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian fokus pada revitalisasi kawasan industri, digitalisasi proses produksi, serta insentif bagi industri hilirisasi. Strategi ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan mentah atau produk setengah jadi, tetapi mampu memproduksi barang bernilai tambah tinggi dan siap ekspor.

Kinerja ekspor manufaktur menjadi salah satu indikator utama perbandingan kedua negara. Thailand tercatat memiliki pertumbuhan ekspor yang lebih stabil dan beragam, terutama untuk kendaraan bermotor, elektronik, dan produk kimia. Indonesia juga mengalami pertumbuhan ekspor, tetapi masih lebih bergantung pada beberapa komoditas tertentu, sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi harga global. Keunggulan Thailand di sektor ekspor menunjukkan bahwa struktur manufakturnya lebih adaptif terhadap permintaan internasional.

Dari sisi tenaga kerja, Thailand berhasil memanfaatkan tenaga kerja terampil dan program pelatihan industri yang konsisten. Pendidikan vokasi dan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri memberikan pasokan SDM yang siap pakai, khususnya untuk sektor manufaktur berbasis teknologi. Indonesia, meski memiliki jumlah tenaga kerja lebih besar, menghadapi tantangan kualitas SDM, terutama terkait keterampilan teknis dan kemampuan mengoperasikan teknologi modern.

Selain itu, integrasi rantai pasok regional turut menentukan posisi manufaktur kedua negara. Thailand lebih sukses menarik investasi dalam rantai pasok otomotif dan elektronik yang melibatkan negara-negara ASEAN dan Asia Timur. Keberhasilan ini membuat Thailand menjadi pusat produksi regional, sedangkan Indonesia masih perlu meningkatkan konektivitas logistik dan efisiensi distribusi agar mampu menarik lebih banyak investasi strategis.

Dari sisi kebijakan fiskal dan insentif investasi, Thailand memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk masuk ke sektor manufaktur berteknologi tinggi. Keringanan pajak, dukungan penelitian dan pengembangan, serta program insentif ekspor menjadi daya tarik tersendiri. Indonesia tengah mengembangkan kebijakan serupa, termasuk program kawasan industri khusus dan insentif pajak untuk industri hilirisasi, namun implementasinya masih perlu disederhanakan agar lebih efektif dan kompetitif.

Teknologi juga menjadi faktor pembeda yang signifikan. Thailand lebih cepat mengadopsi otomatisasi, robotik, dan sistem digital untuk manajemen produksi. Implementasi ini meningkatkan produktivitas, mengurangi kesalahan, dan menekan biaya produksi. Di sisi lain, Indonesia masih dalam tahap awal adaptasi teknologi manufaktur canggih, dengan sebagian besar pabrik masih mengandalkan tenaga kerja manual atau semi-otomatis.

Para pelaku industri menilai bahwa meski Thailand unggul dalam beberapa sektor, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengejar ketertinggalan. Pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, dan posisi strategis di jalur perdagangan global memberikan keuntungan kompetitif yang signifikan. Jika didukung oleh kebijakan yang tepat, peningkatan kualitas SDM, dan investasi teknologi, Indonesia memiliki peluang untuk kembali memperkuat posisinya di sektor manufaktur ASEAN.

Kondisi global juga turut memengaruhi gerak manufaktur kedua negara. Ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga bahan baku, dan perubahan permintaan konsumen menuntut kedua negara untuk lebih adaptif. Thailand terbukti lebih siap dengan strategi diversifikasi produk dan efisiensi produksi, sementara Indonesia perlu mempercepat reformasi struktural agar lebih resilien terhadap gejolak global.

Secara keseluruhan, akhir 2025 menunjukkan bahwa Thailand saat ini unggul dalam beberapa indikator manufaktur ASEAN, terutama terkait produktivitas, ekspor, dan adopsi teknologi. Indonesia, meski masih tertinggal dalam beberapa aspek, memiliki modal strategis yang kuat dan potensi pertumbuhan yang besar. Fokus pada peningkatan kualitas SDM, digitalisasi proses produksi, serta penguatan rantai pasok akan menjadi kunci agar Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dan bersaing lebih kompetitif di masa mendatang.

Perkembangan ini menjadi sinyal bagi para investor dan pemangku kepentingan industri untuk menilai peluang dan risiko di kawasan ASEAN. Thailand menunjukkan bahwa strategi terintegrasi antara teknologi, SDM, dan kebijakan fiskal dapat meningkatkan daya saing manufaktur secara signifikan. Indonesia, dengan langkah strategis yang tepat, berpotensi memanfaatkan pasar domestik, sumber daya manusia, dan posisi geografis untuk memperkuat industrinya dan kembali menjadi pemain utama di kawasan.

Akhirnya, gerak bisnis manufaktur ASEAN hingga akhir 2025 menegaskan pentingnya inovasi, efisiensi, dan kebijakan yang pro-investasi. Thailand unggul saat ini, tetapi Indonesia masih memiliki peluang untuk bangkit melalui reformasi struktural dan pengembangan teknologi yang berkelanjutan. Sektor manufaktur ASEAN akan terus menjadi medan persaingan dan kolaborasi yang menentukan posisi ekonomi regional di masa depan.