Dirut BRI Ungkap Peluang Bisnis Fintech Indonesia di WEF 2026

Dirut BRI Ungkap Peluang Bisnis Fintech Indonesia di WEF 2026

Rangkaberita.com — Pada ajang tahunan World Economic Forum (WEF) 2026 yang digelar di Davos, Swiss, CEO PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali menarik perhatian dunia dengan pemaparan mengenai peluang besar yang dimiliki sektor fintech di Indonesia. Sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, BRI memainkan peran penting dalam pengembangan sektor keuangan, khususnya dalam mendukung pertumbuhan fintech yang terus berkembang pesat di Tanah Air. Dalam pidatonya, Dirut BRI tidak hanya membahas peluang bisnis fintech secara umum, tetapi juga menggali lebih dalam bagaimana Indonesia bisa menjadi salah satu pemain utama dalam revolusi fintech global.

Fintech Indonesia Peta Peluang yang Menjanjikan

Di hadapan para pemimpin dunia, investor, dan pelaku industri, Dirut BRI menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan fintech di kawasan Asia bahkan dunia. Hal ini didasarkan pada beberapa faktor penting yang sangat mendukung perkembangan sektor fintech, antara lain jumlah populasi yang besar, penetrasi internet yang semakin tinggi, serta transformasi digital yang semakin meluas di berbagai sektor ekonomi. Dengan jumlah populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi berbagai jenis layanan fintech. Dari pembayaran digital, pinjaman online, hingga investasi dan asuransi berbasis teknologi, pasar Indonesia menawarkan peluang yang sangat luas.

Selain itu, dengan lebih dari 200 juta pengguna internet, Indonesia menjadi pasar yang sangat menarik bagi perusahaan fintech, baik domestik maupun internasional. Menurut Dirut BRI, transformasi digital yang telah berjalan di Indonesia juga menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem fintech yang berkembang dengan pesat. Banyak sektor yang sudah mulai beralih ke layanan berbasis teknologi, seperti e-commerce, transportasi, dan perbankan. Masyarakat kini semakin terbiasa dengan transaksi digital, yang membuka peluang besar untuk perusahaan fintech untuk memperkenalkan produk dan layanan mereka.

Fintech: Penggerak Inklusi Keuangan di Indonesia

Salah satu aspek yang sangat ditekankan oleh Dirut BRI adalah peran fintech dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Meskipun Indonesia merupakan salah satu ekonomi terbesar di Asia, tingkat inklusi keuangan masih menjadi tantangan. Berdasarkan data Bank Dunia, sekitar 60% penduduk Indonesia belum memiliki akses ke layanan keuangan formal, baik itu perbankan, asuransi, atau investasi. Namun, fintech telah berhasil menjembatani kesenjangan ini. Melalui layanan-layanan seperti pinjaman online, pembayaran digital, serta dompet elektronik, fintech memberi kemudahan akses bagi masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau oleh layanan keuangan tradisional.

Dirut BRI mengungkapkan bahwa sektor fintech Indonesia telah berhasil melayani jutaan orang yang sebelumnya terabaikan oleh sistem perbankan konvensional. Salah satu contoh nyata adalah layanan pinjaman online yang menawarkan kredit dengan proses yang lebih cepat dan tanpa memerlukan jaminan. Dengan kemudahan ini, banyak UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia yang kini dapat mengakses modal usaha dengan lebih mudah. Ini menjadi salah satu langkah penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi di tingkat mikro dan memajukan sektor UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Selain itu, pembayaran digital juga telah membuka peluang bagi mereka yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan. Dengan hadirnya aplikasi dompet digital seperti OVO, GoPay, dan Dana, masyarakat dapat melakukan transaksi, membayar tagihan, membeli barang, bahkan berinvestasi secara mudah menggunakan ponsel pintar mereka.

BRI dan Peranannya dalam Ekosistem Fintech Indonesia

Sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia, BRI memainkan peran yang sangat signifikan dalam ekosistem fintech di tanah air. BRI telah lama menyadari pentingnya peran teknologi dalam mendorong inklusi keuangan dan telah banyak berinvestasi dalam pengembangan fintech. Dalam beberapa tahun terakhir, BRI telah menggandeng berbagai perusahaan fintech untuk mengembangkan solusi keuangan yang lebih inklusif. Salah satu langkah strategis BRI adalah membangun BRI Ventures, sebuah anak perusahaan yang berfokus pada investasi dan pengembangan startup fintech. Melalui BRI Ventures, bank ini tidak hanya menyediakan pendanaan, tetapi juga memberikan dukungan berupa akses ke jaringan bisnis dan sistem perbankan yang sudah mapan. Dengan cara ini, BRI berharap dapat mempercepat adopsi teknologi keuangan dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat Indonesia.

Di samping itu, BRI juga telah mengintegrasikan berbagai layanan fintech ke dalam ekosistem digital perbankannya. Misalnya, BRI kini menyediakan layanan pinjaman mikro berbasis aplikasi yang memanfaatkan teknologi big data dan kecerdasan buatan (AI) untuk menilai kelayakan kredit dengan lebih cepat dan akurat. Hal ini mempermudah masyarakat, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, untuk mengakses layanan perbankan tanpa perlu datang langsung ke kantor cabang. Selain itu, BRI juga terlibat aktif dalam pengembangan sistem pembayaran digital. Melalui kemitraan dengan berbagai platform fintech, BRI berusaha memperluas jangkauan layanannya, menjadikan transaksi digital lebih mudah dan aman. Ini menjadi bukti bahwa BRI tidak hanya berfokus pada pelayanan konvensional, tetapi juga mendukung pengembangan teknologi yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.

Tantangan yang Dihadapi Sektor Fintech Indonesia

Meskipun peluang yang ada sangat besar, sektor fintech Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan pertumbuhannya yang berkelanjutan. Salah satu tantangan terbesar adalah regulasi yang belum sepenuhnya mendukung perkembangan fintech. Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) telah membuat beberapa kebijakan untuk mengatur sektor fintech, banyak pemain fintech yang masih menghadapi hambatan terkait izin, regulasi, dan kebijakan yang kurang jelas. Dirut BRI juga menyoroti pentingnya regulasi yang seimbang, yang tidak hanya mengatur tetapi juga mendukung inovasi dalam sektor fintech.

Dengan regulasi yang tepat, fintech bisa berkembang pesat tanpa mengorbankan keamanan dan perlindungan konsumen. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri fintech sangat penting agar sektor ini bisa terus berkembang dan menciptakan nilai ekonomi yang besar bagi Indonesia. Selain itu, tantangan lainnya adalah literasi digital yang masih rendah di sebagian besar daerah, terutama di luar Jawa. Meskipun penetrasi internet terus meningkat, tidak semua masyarakat memiliki pemahaman yang cukup tentang bagaimana memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perlu adanya upaya lebih besar dalam meningkatkan literasi digital untuk memastikan bahwa manfaat fintech bisa dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

Peluang untuk Kolaborasi Global

Dirut BRI juga melihat bahwa masa depan fintech Indonesia akan sangat bergantung pada kolaborasi internasional. Dalam pidatonya di WEF 2026, ia mengajak para pelaku industri global untuk melihat Indonesia sebagai mitra strategis dalam pengembangan fintech. BRI sendiri sudah menjalin berbagai kerjasama dengan perusahaan fintech global dan investor asing untuk mempercepat digitalisasi sektor keuangan Indonesia. Dengan populasi besar dan perkembangan teknologi yang cepat, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pasar utama bagi fintech global. Pelaku bisnis dan investor yang ingin memanfaatkan peluang di pasar Asia Tenggara seharusnya mempertimbangkan Indonesia sebagai tujuan utama.

Pemaparan Dirut BRI di WEF 2026 menggarisbawahi pentingnya sektor fintech dalam perekonomian Indonesia. Dengan potensi pasar yang besar, transformasi digital yang pesat, dan peran aktif dari BRI dalam mendukung perkembangan fintech, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam industri fintech global. Namun, untuk mewujudkan hal ini, kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan sektor swasta, serta pengembangan regulasi yang mendukung inovasi, menjadi kunci agar sektor fintech dapat berkembang secara berkelanjutan dan inklusif.