Bulog Gandeng BRIN untuk Cegah Beras Berkutu dengan Teknologi Baru

Bulog Gandeng BRIN untuk Cegah Beras Berkutu dengan Teknologi Baru

Rangkaberita.com — Perum Bulog terus melakukan berbagai inovasi guna menjaga kualitas cadangan beras pemerintah agar tetap layak konsumsi hingga ke tangan masyarakat. Salah satu tantangan utama dalam penyimpanan beras jangka panjang adalah munculnya hama gudang, terutama kutu beras, yang dapat menurunkan mutu, berat, dan nilai gizi beras. Untuk mengatasi masalah tersebut, Bulog menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan dan penerapan teknologi baru pencegah beras berkutu.

Kerja sama antara Bulog dan BRIN ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas pengelolaan stok beras dalam jumlah besar, Bulog membutuhkan metode penyimpanan yang aman, efektif, dan ramah lingkungan. Sementara itu, BRIN berperan sebagai institusi riset yang memiliki kapasitas keilmuan dan teknologi untuk menghasilkan solusi berbasis sains.

Salah satu fokus utama kolaborasi ini adalah penerapan teknologi pengendalian hama tanpa bahan kimia berbahaya. Selama ini, pengendalian kutu beras kerap dilakukan dengan fumigan kimia yang berisiko meninggalkan residu dan berdampak pada kesehatan serta lingkungan. Melalui riset bersama BRIN, Bulog mulai menguji teknologi alternatif seperti pengaturan atmosfer ruang penyimpanan, penggunaan gas inert, serta sistem penyimpanan kedap udara yang mampu menghambat perkembangan hama secara alami.

Teknologi pengaturan atmosfer bekerja dengan menurunkan kadar oksigen dan meningkatkan kadar gas tertentu di dalam gudang atau kemasan beras. Kondisi ini membuat kutu beras tidak dapat bertahan hidup atau berkembang biak. Metode ini dinilai lebih aman karena tidak meninggalkan zat berbahaya pada beras dan dapat menjaga kualitas fisik maupun rasa beras tetap baik. Selain itu, BRIN juga mengembangkan sistem monitoring berbasis sensor dan digitalisasi gudang. Dengan teknologi ini, Bulog dapat memantau suhu, kelembapan, dan kondisi lingkungan penyimpanan secara real time. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk mendeteksi potensi munculnya hama sejak dini, sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

Direktur Utama Perum Bulog menegaskan bahwa kolaborasi dengan BRIN merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam bertransformasi menuju pengelolaan pangan modern. Inovasi teknologi tidak hanya bertujuan menekan kerugian akibat beras rusak, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas beras yang disalurkan Bulog, baik untuk bantuan sosial, stabilisasi harga, maupun kebutuhan darurat. Di sisi lain, BRIN melihat kerja sama ini sebagai peluang untuk mengimplementasikan hasil riset secara langsung di sektor strategis. Hasil penelitian yang selama ini berada di laboratorium dapat diterapkan secara nyata dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan misi BRIN untuk mendorong riset yang aplikatif dan berorientasi pada solusi nasional.

Penerapan teknologi baru ini juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi biaya penyimpanan dalam jangka panjang. Dengan berkurangnya tingkat kerusakan beras akibat kutu, Bulog dapat menekan losses dan mengoptimalkan penggunaan anggaran negara. Selain itu, pendekatan yang lebih ramah lingkungan sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Ke depan, Bulog dan BRIN berencana memperluas uji coba teknologi ini ke berbagai gudang penyimpanan di seluruh Indonesia. Jika hasilnya optimal, teknologi pencegahan beras berkutu ini akan diterapkan secara nasional. Langkah ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam modernisasi sistem logistik pangan Indonesia dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.