Upacara HAB, Amsakar Tekankan Kerukunan dan Penguasaan Teknologi

Amsakar Tekankan Kerukunan dan Penguasaan Teknologi

Rangkaberita.com — Upacara peringatan Hari Amal Bakti menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai kebersamaan, pengabdian, dan refleksi atas peran aparatur dalam melayani masyarakat. Dalam suasana yang khidmat dan penuh makna, Amsakar menyampaikan pesan mendalam yang menyoroti dua hal utama, yakni pentingnya menjaga kerukunan serta penguasaan teknologi di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Pesan tersebut mendapat perhatian luas karena dinilai relevan dengan tantangan sosial dan profesional saat ini.

Kerukunan menjadi penekanan utama dalam amanat yang disampaikan. Menurut Amsakar, keberagaman yang dimiliki bangsa merupakan kekuatan besar apabila dikelola dengan baik. Perbedaan latar belakang, pandangan, dan budaya seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi dasar untuk saling melengkapi. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, kerukunan adalah fondasi yang memungkinkan pembangunan berjalan secara berkelanjutan dan inklusif.

Ia menegaskan bahwa aparatur memiliki peran strategis sebagai teladan di tengah masyarakat. Sikap saling menghormati, kemampuan berdialog, dan kesediaan untuk bekerja sama lintas perbedaan harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, kehadiran aparatur tidak hanya dirasakan melalui kebijakan dan program, tetapi juga melalui keteladanan moral yang menyejukkan. Upacara Hari Amal Bakti pun dimaknai sebagai pengingat akan tanggung jawab besar tersebut.

Selain kerukunan, Amsakar juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi. Ia menilai bahwa perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara kerja, pola komunikasi, dan ekspektasi masyarakat terhadap layanan publik. Aparatur dituntut untuk adaptif, terbuka terhadap pembaruan, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan efektif. Penguasaan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar pelayanan dapat berjalan cepat, transparan, dan akuntabel.

Dalam amanatnya, Amsakar menyampaikan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat nilai pengabdian, bukan menggantikannya. Sentuhan manusia, empati, dan integritas tetap menjadi inti dari pelayanan. Teknologi hadir untuk mendukung efisiensi dan jangkauan layanan, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat nyata dari kehadiran negara. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter.

Upacara Hari Amal Bakti juga dipandang sebagai sarana refleksi atas perjalanan pengabdian selama ini. Amsakar mengajak seluruh peserta upacara untuk mengevaluasi diri, menilai sejauh mana kontribusi yang telah diberikan, serta memperbaiki hal-hal yang masih perlu ditingkatkan. Semangat evaluasi ini diharapkan melahirkan komitmen baru untuk bekerja lebih baik, lebih profesional, dan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Pesan mengenai kerukunan juga dikaitkan dengan situasi sosial yang dinamis. Amsakar mengingatkan bahwa arus informasi yang begitu cepat dapat memicu kesalahpahaman dan polarisasi apabila tidak disikapi dengan bijak. Aparatur diharapkan mampu menjadi penjernih suasana, tidak mudah terprovokasi, serta berperan aktif dalam menyampaikan informasi yang benar dan menyejukkan. Dengan cara ini, stabilitas sosial dapat terus terjaga.

Dalam konteks penguasaan teknologi, Amsakar mendorong budaya belajar yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa kemampuan teknologi tidak cukup hanya dimiliki, tetapi juga harus terus diperbarui seiring perkembangan yang ada. Pelatihan, kolaborasi, dan inovasi menjadi kunci agar aparatur tidak tertinggal. Sikap terbuka terhadap perubahan dinilai sebagai modal penting untuk menghadapi tantangan masa depan.

Upacara tersebut berlangsung dalam suasana tertib dan penuh kekhidmatan. Para peserta mengikuti setiap rangkaian dengan penuh perhatian, mencerminkan keseriusan dalam memaknai peringatan Hari Amal Bakti. Kehadiran para pimpinan dan aparatur dari berbagai unsur semakin memperkuat pesan kebersamaan dan persatuan yang disampaikan. Momentum ini menjadi simbol tekad bersama untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian.

Di akhir amanat, Amsakar mengajak seluruh aparatur untuk menjadikan nilai kerukunan dan penguasaan teknologi sebagai bagian dari budaya kerja. Ia berharap kedua hal tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam tindakan nyata. Dengan kerukunan yang terjaga dan teknologi yang dikuasai, aparatur diharapkan mampu memberikan pelayanan terbaik serta berkontribusi positif bagi kemajuan masyarakat dan bangsa.

Peringatan Hari Amal Bakti melalui upacara ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Ia menjadi ruang penguatan nilai, penyamaan visi, dan peneguhan komitmen bersama. Pesan Amsakar tentang kerukunan dan teknologi menggema sebagai pengingat bahwa pengabdian sejati lahir dari keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan.