Backlog Besar Tinggi, Pasar Properti RI Tetap Menarik

Backlog Besar Tinggi, Pasar Properti RI Tetap Menarik

Rangkaberita.com — Besarnya populasi Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa, ditambah tingginya backlog perumahan, menjadi faktor kunci yang membuat sektor properti di Tanah Air tetap menjanjikan dalam jangka panjang. Kondisi ini dianggap sebagai peluang emas bagi para pelaku industri properti, karena permintaan akan hunian di berbagai kota besar maupun kawasan penyangga ibu kota masih sangat tinggi.

Menurut Leon Chen, Founder & Owner Winfield Real Estate Agency, keunggulan demografis Indonesia mulai dari jumlah penduduk yang besar hingga backlog perumahan yang masih tinggi—memberikan peluang besar bagi pengembang untuk terus mengembangkan proyek-proyek properti, baik hunian vertikal maupun horizontal.

“Keunggulan demografis Indonesia mulai dari populasi yang besar hingga backlog perumahan yang masih tinggi menjadi peluang besar di dunia properti dan membuat sektor ini tetap menarik dalam jangka panjang,” ujar Leon Chen dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/11/2025).

Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), backlog perumahan di Indonesia hingga tahun 2025 diperkirakan mencapai jutaan unit, baik untuk segmen rumah sederhana maupun rumah menengah. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan hunian masih jauh melebihi ketersediaan properti yang ada saat ini. Kondisi ini menandakan pasar properti Indonesia tetap seksi, bahkan di tengah dinamika ekonomi global yang kadang tidak menentu.

Selain faktor backlog, tingginya pertumbuhan populasi di kota-kota besar, terutama Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Medan, semakin mendorong permintaan hunian baru. Urbanisasi yang terus meningkat membuat kebutuhan rumah tapak dan apartemen tidak hanya terbatas di pusat kota, tetapi juga merambah ke kawasan penyangga. Hal ini membuka peluang bagi pengembang untuk mengembangkan proyek mixed-use, perumahan terpadu, dan apartemen menengah ke atas yang kini menjadi incaran pasar.

Leon Chen menambahkan, faktor demografi juga menjadi daya tarik utama bagi investor asing maupun lokal yang ingin menanamkan modalnya di sektor properti Indonesia. Pasar yang besar dan terus berkembang memberikan kepastian bahwa proyek properti akan memiliki penyerapan yang baik.

“Dengan populasi yang besar, terutama di segmen usia produktif, permintaan perumahan akan terus ada. Investor bisa melihat ini sebagai peluang jangka panjang,” ujarnya.

Selain itu, tren properti di Indonesia kini semakin beragam, tidak hanya terbatas pada rumah tapak, tetapi juga apartemen, kondominium, dan kawasan mixed-use. Faktor kemudahan akses transportasi, dekat dengan pusat bisnis, serta fasilitas lengkap menjadi pertimbangan utama konsumen dalam memilih hunian. Backlog yang tinggi pun menjadi dorongan bagi pengembang untuk menghadirkan produk yang sesuai kebutuhan masyarakat, mulai dari kelas menengah hingga premium.

Kondisi ini menjadikan sektor properti sebagai salah satu instrumen investasi yang relatif aman dan stabil, bahkan ketika ekonomi menghadapi tantangan. Dengan permintaan yang terus ada dan dukungan dari kebijakan pemerintah untuk pembangunan perumahan, industri properti Indonesia diprediksi akan tetap tumbuh dalam jangka panjang. Leon Chen menegaskan, pengembang yang mampu membaca peluang ini dan menghadirkan produk yang tepat akan menikmati keuntungan besar.

Dengan demikian, kombinasi antara populasi yang besar, backlog perumahan yang tinggi, dan tren urbanisasi membuat sektor properti di Indonesia tetap seksi bagi investor dan pengembang. Meski ekonomi bergerak dinamis, permintaan akan hunian yang terus meningkat menjadi alasan kuat mengapa properti tetap menjadi sektor yang menjanjikan untuk beberapa dekade ke depan.